banner atas

Turnamen GJIBT Kisruh, Perbasi Dituntut Rp21 M

portalpa - Rabu, 10 Juli 2024 | 17:36 WIB

IMG-20240710-WA0036

DEPOK, PortalPasundan.com – PT Kuy Digital Indonesia (PT KDI) selaku penyelenggara Gunadarma Java International Basketball Tournament (GJIBT) bakal menuntut ganti rugi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) sebesar Rp21 miliar.

PT KDI menilai Perbasi dinilai bertindak arogan, menghentikan secara sepihak turnamen basket yang diselenggarakan PT KDI bersama Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Turnamen direncanakan digelar di Kampus Gunadarma Depok pada 1-7 Juli 2024.

Namun sayangnya, agenda yang melibatkan banyak klub basket dari dalam dan luar negeri itu dihentikan oleh Perbasi. Adapun duduk perkaranya diduga karena persoalan wasit.

CEO PT KDI selaku Penanggung Jawab GJIBT, Suri Agung Prabowo, mengungkapkan, sejak jauh-jauh hari pihaknya telah mengajukan permohonan terkait GJIBT ke PP Perbasi.

Pihaknya kemudian mendapat rekomendasi dari Perbasi Jawa Barat pada 23 April 2024. Lalu pada 8 Mei 2024, PT KDI menerima surat rekomendasi pelaksanaan kegiatan GJIBT dari PP Perbasi.

“Nah pada tanggal 30 Mei 2024 kami juga telah menerima surat rekomendasi pelaksanaan GJIBT dari Kemenparekraf,” kata Agung, Rabu (10/7/2024).

Masalah mulai muncul ketika pada 6 Juni 2024 Agung mengirimkan surat permohonan bantuan wasit ke Perbasi Jabar. Namun sampai dengan tanggal 26-27 Juni pihaknya masih belum mendapatkan respons yang baik.

“Tanggal 28 saya selaku penanggung jawab mencoba menghubungi Bapak Ilham terkait wasit yaitu dia dari PP Perbasi dan akhirnya disepakati harga wasitnya berapa,” tuturnya.

Kemudian pada 30 Juni 2024, sekira pukul 21.00 WIB, Agung dan tim kembali mencoba menghubungi Ilham tapi tidak pernah direspons.

“Nah, kami sebagai penyelenggara agak worry (kuatir) terkait masalah wasit karena surat tersebut menunjukkan bahwa wasit itu bukti bahwa kita bisa dapat wasitnya,” kata dia.

Lalu pada 1 Juli 2024 sekira pukul 01.51 WIB, Agung dan tim baru mendapatkan surat penugasan perangkat pertandingan dengan jumlah wasit sebanyak 17 wasit, 2 pengawas dan 1 koordinator wasit melalui email.

Tapi nyatanya, sampai dengan jelang pertandingan sekira pukul 07.40 WIB perangkat wasit masih belum siap untuk memimpin pertandingan.

“Di mana saat itu wasit yang hadiri hanya berjumlah 6 orang dan 1 orang pengawas. Karena pertandingan kita dimulai pada jam 08.00 pagi,” sebutnya lagi.

Karena cuma ada enam wasit dan satu pengawas, sambung Agung, tim berusaha menanyakan kembali kepada Perbasi.

“Akhirnya jam 07.40 WIB saya kasih kirim ke mereka, ini lho surat bukti bahwa kita sudah mendapatkan surat tugasnya,” tutur Agung.

“Jam 07.50 WIB waktu itu saya bilang, ini sudah 10 menit lagi on, kira-kira seperti apa? Karena pengawasnya juga cuma ada satu,” ucap Agung.

Dalam kondisi mendesak tersebut, Agung menawarkan negosiasi agar Perbasi memimpin satu pertandingan, dua pertandingan lainnya dipimpin wasit dari non-Perbasi.

“Tapi mereka bilang, oh tidak bisa pak. Oh ya udah, karena ini sudah jam 08.00 WIB akhirnya saya putuskan pada waktu itu untuk pertandingan pertama. Kalian masih belum siap? Ya udah kita jalankan ini aja,” kata Agung menirukan percakapannya dengan pihak Perbasi.

Akhirnya selesai pertandingan pertama, wasit Perbasi semua sudah siap untuk pertandingan kedua.

“Selesai itu, wasit non-Perbasi dikeluarkan semua. “Kami bagikan haknya untuk pertandingan”.

Selang beberapa saat kemudian, diberikan surat revisi kembali untuk penambahan jumlah wasit Perbasi. Menjadi 20 orang, beserta 4 pengawas dan 1 koordinator wasit.

Tanggal 2 Juli 2024, pagi-pagi Agung dan tim diberitahukan bahwa ada tambahan wasit tadi sebelumnya 4 orang.

“Nah, tanggal 3 Juli, malam hari itu kita sudah mendapatkan surat dari Perbasi untuk klarifikasi. Dari saat waktu itu kami bertanya, oh nanti datang aja ke Perbasi,” papar dia.

Sebagai penanggung jawab GJIBT, Agung datang pada 3 Juli 2024 sekira pukul 08.00 WIB ke PP Perbasi. Di sana ia ditanya perihal penggunaan wasit non-Perbasi.

“Saya sudah jelaskan bahwa itu adalah keputusan dari kami karena Perbasi waktu itu masih belum siap perangkatnya. Tetapi dimarahin. Ya saya salah kan. Ya sudah saya minta maaf. Tapi mereka nggak mau tahu, pokoknya pertandingan berhenti,” tutur Agung.

Ia mengaku telah berusaha untuk memberi penjelasan, namun hal itu terkesan ditolak mentah-mentah oleh pengurus Perbasi. Sampai akhirnya turnamen basket yang melibatkan lebih dari 77 tim itu dibubarkan.

Dituntut Puluhan Miliar

Sementara itu, kuasa hukum PT KDI, Deolipa Yumara, menduga ada unsur dugaan pelanggaran Perbasi dalam kasus ini.

“Nanti ada pasal-pasalnya, bisa pasal penipuan atau pasal apa. Jadi kita akan melakukan hal-hal seperti itu,” tuturnya.

Menurut Deolipa, kondisi ini para peserta dan pihak penyelenggara sama-sama menjadi korban atas sikap arogansi pengurus Perbasi.

“Di atasnya kompensasi itu adalah adanya permintaan maaf dari kami terhadap seluruh peserta, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Posisi kita ini sama-sama korban,” ujarnya.

Pada Perbasi, Deolipa menegaskan bakal melakukan langkah hukum berupa tuntutan ganti rugi materi sebesar Rp1,2 miliar. Angka itu akan ditambah dengan kerugian immateri yang besarannya mencapai Rp20 miliar.

“Ini kan persoalan psikologis. Anak-anak (peserta) ini kan menderita nih, kami juga di sini menderita. Jadi immaterialnya bisa jadi kami minta Rp20 miliar. Nah totalnya Rp21,2 miliar. Kami akan menggugat Perbasi,” tegasnya.

Menurut Deolipa itu dilakukan untuk memberi efek jera terhadap Perbasi. “Jangan sampai arogansi terus,” katanya.

Hal lain yang juga jadi sorotan Deolipa dan kliennya adalah, dalam kesempatan yang sama, pengurus Perbasi kepergok bersama dengan tim basket dari luar negeri peserta GJIBT.

“Ini kan berarti pembajakan. Ini akan kami lakukan langkah hukum perdata maupun pidana. Ini langkah hukum terbuka, akan kami lakukan sampai ini jadi jelas,” ujarnya.
(Punk)

Tags
Artikel Terkait
Rekomendasi
Terkini