banner atas

Kematian Bocah Berbuntut Pemeriksaan 30 Polisi oleh Propam

portalpa - Selasa, 25 Juni 2024 | 00:22 WIB

kapolda-sumbar-irjen-suharyono-saat-memberikan-keterangan-pe-smwe~2

PADANG, PortalPasundan.com — Kematian AM, bocah berusia 13 tahun di Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), berbuntut panjang. Kematian AM diduga tak wajar sehingga berbuntut pemeriksaan 30 anggota kepolisian oleh Direktorat Propam Polda Sumbar termasuk 35 warga sebagai saksi.

Jenazah AM pertama kali ditemukan mengambang di aliran sungai di bawah Jembatan Sungai Kuranji, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, pada Ahad (9/6/2024) sekitar pukul 11.55 WIB, oleh warga yang membuang sampah.

Penemuan jasad AM sangat mengenaskan karena mengalami luka lebam dan enam tulang rusuk patah yang mengindikasikan mengalami kekerasan fisik.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang pun melakukan investigasi atas kejadian ini. “Di sekujur tubuh korban terdapat luka-luka lebam yang diduga karena penganiayaan,” ungkap Direktur LBH Padang, Indira Suryani, Sabtu (22/6/2024).

Dari hasil investigasi LBH Padang, didapatlah kronologi kejadian yang menghebohkan tersebut. Di mana, bermula ketika AM bersama rekannya, A, berboncengan melintasi Jembatan Batang Kuranji pada Minggu 9 Juni 2024 sekitar pukul 04.00 WIB.

Saat itu, sepeda motor mereka dihampiri oleh polisi yang sedang patroli. Berdasarkan keterangan A, alih-alih patroli seorang polisi malah menendang sepeda motor mereka hingga menyebabkan AM terpelanting ke pinggir jalan.

“Pada saat polisi menghampiri, dia menendang kendaraan korban. AM terpelanting ke pinggir jalan. Pada saat terpelanting, korban berjarak sekitar dua meter dengan rekan korban, A,” jelas Indira.

A masih sempat melihat Afif berdiri namun dikelilingi oleh beberapa polisi yang memegang rotan. Setelah itu, A diamankan oleh polisi lain ke Polsek Kuranji, dan sejak itu tidak lagi mengetahui keadaan AM hingga akhirnya ditemukan tewas di sungai pada Minggu (9/6/2024) pukul 11.55 WIB.

“Korban AM ditemukan luka lebam di bagian pinggang, punggung, pergelangan tangan, dan siku. Sementara itu, pipi kiri membiru dan luka yang mengeluarkan darah di bagian kepala,” kata Indira.

Selanjutnya jenazah korban dilakukan autopsi dan keluarga korban menerima copy sertifikat kematian Nomor: SK / 34 / VI / 2024 / Rumkit dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar.

“Keluarga korban sempat diberitahu oleh polisi AM meninggal akibat tulang rusuk patah 6 buah dan robek di bagian paru-paru,” tukas Indira.

Atas peristiwa tersebut, ayah dari korban AM membuat laporan ke Polresta Padang, dengan laporan Nomor : LP/B/409/VI/2024/SPKT/POLRESTA PADANG/POLDA SUMATERA BARAT.

Bertambah 7 Korban

Selain A dan AM, LBH Padang menemukan ada tujuh korban dan lima di antaranya masih di bawah umur. Korban ini diduga mendapatkan penyiksaan dari pihak kepolisian.

“Temuan kami ada 7 korban lagi, 5 anak-anak dan 2 orang dewasa, dan kami telah bertemu dengan korban,” katanya.

Pengakuan korban, kata Indira, semua mereka mendapatkan penyiksaan oleh polisi dan saat ini dalam proses pengobatan mandiri.

“Pengakuan mereka, ada yang disetrum, ada perutnya disulut rokok, kepalanya memar, lalu ada bolong di bagian pinggangnya,” katanya.

Bahkan ada korban yang dipaksa berciuman sesama jenis. “Selain penyiksaan juga terdapat kekerasan seksual. Kami cukup kaget mendengar keterangan korban, tidak hanya fisik tetapi juga melakukan kekerasan seksual,” sebut Indira lagi.

LBH Padang pun mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut tanpa ada yang ditutup-tutupi.

“Kami meminta kepada Kepolisian Daerah atau Polda Sumatera Barat memproses hukum semua anggotanya yang melakukan penyiksaan terhadap anak dan dewasa dalam tragedi Jembatan Kuranji Kota Padang dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan KUHP untuk kasus yang menimpa orang dewasa,” tuturnya.

Pemeriksaan 30 Polisi

Wakapolresta Padang, AKBP Ruly Indra Wijayanto, mengatakan, penyidik tengah menyinkronkan keterangan dari 30 anggota Polda Sumbar dengan kesaksian para saksi lainnya.

“Ada anggota Samapta (Polda Sumbar) yang diminta keterangan itu 30 personel, ini masih meminta keterangan nanti, kami sinkronkan dengan saksi lain. Kami mohon waktu untuk mengungkap kasus ini. Ini diperiksa Propam Polda Sumbar dan Polresta Padang,” ujarnya, Jumat (21/6/2024).

Meski sudah diminta keterangan, kata AKBP Ruly, pihaknya belum melakukan penahanan. Selain memeriksa 30 anggota polisi, pihak kepolisian juga memeriksa 35 orang warga sebagai saksi.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Dwi Sulistyawan, menyatakan pihaknya masih terus melakukan penyelidikan kasus tersebut.

“Hingga sampai saat ini pihak kepolisian dari Polresta Padang masih melakukan penyelidikannya,” kata Kombes Dwi Sulistyawan, Jumat (21/6/2024).

Dwi menjelaskan Polda Sumbar juga sudah meminta keterangan saksi yang berada di tempat kejadian perkara. Selain itu juga saksi yang menemukan jasad AM pada 9 Juni 2024 itu.

“Jadi jika ada informasi dari masyarakat, agar dapat disampaikan kepada kami untuk kemudian kami tindak lanjuti sehingga tidak terjadi simpang siur informasi,” ungkapnya.

Dwi juga menyampaikan ucapan duka terhadap pihak keluarga korban atas peristiwa yang terjadi.

“Kami menyampaikan duka cita atas ini. Kepada keluarga korban kami sampaikan bahwa kasus penemuan mayat ini akan kami tuntaskan,” ujarnya.
(MUL)

Tags
Artikel Terkait
Rekomendasi
Terkini

Kapan Sih Waktu Tidur Yang Sehat?

Mengenal Arlyansyah Timnas U-19

Memahami Doa Miskin Rasulullah

25 Juta Penduduk Masih Miskin

Suporter Tamu Dilarang ke SJH

Angklung Gubrag Bogor Resmi Bersertifikat HAKI

Segudang Manfaat Lidah Buaya